Post Holiday Blues 2025: Apa Itu dan Mengapa Kita Mengalaminya Setelah Liburan?
![]() |
Ilustrasi - Post holiday blues. (Dok. Suara.com). |
PEWARTA.CO.ID - Liburan akhir tahun sering kali menjadi momen yang paling dinanti oleh banyak orang. Entah itu untuk bepergian, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau sekadar menikmati waktu istirahat dari pekerjaan.
Namun, begitu kalender berganti ke tahun 2025 dan kehidupan kembali ke rutinitas sehari-hari, banyak dari kita justru merasakan perubahan suasana hati yang aneh: semangat menurun, motivasi luntur, bahkan muncul rasa cemas atau hampa. Inilah yang dikenal sebagai post holiday blues.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru, tapi pada tahun 2025, gejala ini terasa lebih nyata dan dialami oleh semakin banyak orang. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh tingginya ekspektasi terhadap liburan, tekanan sosial untuk “menikmati hidup sepenuhnya”, serta perubahan mendadak dari kebebasan menuju kewajiban. Kombinasi ini menciptakan efek psikologis yang cukup mengganggu bagi sebagian orang.
Post Holiday Blues atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai "sindrom pasca liburan", adalah kondisi psikologis yang ditandai dengan perasaan sedih, kehilangan semangat, dan kesulitan untuk kembali ke rutinitas setelah masa liburan berakhir. Istilah ini tidak mengacu pada gangguan mental formal seperti depresi, namun bisa menjadi indikator stres ringan hingga sedang yang perlu diwaspadai.
Tahun 2025 menunjukkan peningkatan dalam kesadaran akan kesehatan mental, termasuk fenomena ini. Banyak psikolog dan praktisi kesehatan mental menyebut Post Holiday Blues sebagai respons emosional yang wajar setelah seseorang mengalami momen-momen menyenangkan dan kemudian harus kembali pada realita yang kurang menyenangkan, seperti pekerjaan, sekolah, atau tanggung jawab rumah tangga.
Mengapa kita mengalam Post Holiday Blues setelah liburan? Untuk menjawabnya, mari kita lihat beberapa penyebab yang paling umum:
1. Perubahan ritme dan pola hidup yang mendadak
Selama liburan, kita cenderung mengatur waktu dengan lebih fleksibel. Tidur larut malam, bangun siang, makan bebas, dan tidak perlu memikirkan jadwal kerja. Ketika masa liburan berakhir, tubuh dipaksa kembali ke ritme harian yang lebih kaku. Perubahan mendadak ini bisa memicu stres dan ketidakseimbangan hormon yang berperan dalam suasana hati.
2. Kesenjangan antara ekspektasi dan realita
Banyak orang memiliki harapan tinggi terhadap liburan mereka, bahwa itu akan menjadi momen paling bahagia, penuh kesenangan, dan menyembuhkan kelelahan. Namun, kenyataan tidak selalu sesuai harapan. Ketika kembali dari liburan yang tidak seindah bayangan atau bahkan terlalu cepat berlalu, rasa kecewa bisa muncul dan memperburuk suasana hati.
3. Kehilangan momen-momen emosional
Liburan sering kali diisi dengan kebersamaan, entah itu dengan keluarga, teman, atau pasangan. Ketika masa itu berakhir, muncul rasa kehilangan karena tidak lagi berada dalam lingkungan yang menyenangkan dan hangat. Ini bisa menimbulkan efek serupa dengan rasa hampa atau kesepian.
4. Kembali ke tekanan dan tanggungjawab
Pekerjaan yang menumpuk, tugas yang tertunda, atau beban kehidupan lainnya kembali menghantui setelah liburan. Transisi dari suasana santai menuju tekanan kehidupan sehari-hari bisa terasa sangat berat secara mental maupun fisik.
5. Faktor biologis dan cuaca
Menurut penelitian dari Mayo Clinic dan American Psychological Association, faktor biologis seperti perubahan kadar serotonin dan melatonin turut mempengaruhi mood seseorang setelah liburan. Selain itu, pada negara-negara dengan musim dingin di awal tahun, seasonal affective disorder (SAD) juga dapat memperburuk kondisi Post Holiday Blues.